Kamis, 11 September 2014

BIOGRAFI DARI SEORANG Andrea Hirata Seman Said Harun


BIOGRAFI DARI SEORANG PENULIS
Andrea Hirata Seman Said Harun

Andrea Hirata Seman Said Harun lahir di pulau Belitung 24 Oktober 1982, Andrea Hirata anak keempat dari pasangan Seman Said Harunayah dan NA Masturah. dilahirkan di sebuah desa di pulau Belitong. Tinggal di desa dengan segala keterbatasan yang  dapat membuat ia termotivasi dari keadaan di sekelilingnya yang memperihatinkan.
Nama Andrea Hirata sebenarnya bukanlah nama pemberian dari kedua orang tuanya. Sejak lahir ia diberi nama Aqil Barraq Badruddin. Merasa tak cocok dengan nama tersebut, Andrea pun menggantinya dengan Wadhud. tetapi, ia masih merasa terbebani dan ia kembali mengganti namanya dengan Andrea Hirata Seman Said Harun saat ia masih remaja.
Seperti yang diceritakannya dalam novel Laskar Pelangi, Andrea kecil bersekolah di sebuah sekolah yang kondisi bangunannya hampir rubuh. Sekolah yang bernama SD Muhamadiyah itu diakui Andrea cukup memperihatinkan. Tapi karena ketiadaan biaya, ia harus tetap menimba ilmu di bangunan yang tak nyaman, Andrea tetap memiliki motivasi yang cukup besar untuk belajar. Di sekolah itu juga ia bertemu dengan sahabat-sahabatnya yang dijuluki Laskar Pelangi.
Andrea termotivasi karena ibu guru yang mengajarnya saat ia masih sekolah di SD Muhamadiya, Kegigihan Bu Muslimah untuk mengajar siswa yang hanya berjumlah tak lebih dari 11 orang itu ternyata sangat berarti bagi kehidupan Andrea. Termasuk saat ia menulis novel “laskar pelangi” yang ia buat untuk Bu Muslimah. Berkat Bu Muslimah, Andrea mendapatkan dorongan yang membuatnya mampu menempuh jarak 30 km dari rumah ke sekolah untuk menimba ilmu. Ia sangat mengagumi sosok Bu Muslimah sebagai salah satu inspirator dalam hidupnya. Menjadi seorang penulis. Sejak kelas 3 SD, Andrea telah membulatkan niat untuk menjadi penulis yang menggambarkan perjuangan Bu Muslimah sebagai seorang guru.  Setelah menyelesaikan pendidikan di kampung halamannya, Andrea memberanikan diri untuk merantau ke Jakarta setelah lulus SMA.  keinginannya untuk menggapai cita-cita sebagai seorang penulis dan melanjutkan ke bangku kuliah menjadi dorongan terbesar untuk hijrah ke Jakarta. Saat berada di kapal laut, Andrea mendapatkan saran dari sang nahkoda untuk tinggal di daerah Ciputat. Ia pun menumpang sebuah bus agar sampai di daerah Ciputat.
Tetapi, supir bus ternyata malah mengantarkan ke Bogor. Lalu andrea memulai hidup barunya di kota hujan. Andrea mampu memperoleh pekerjaan sebagai penyortir surat di kantor pos Bogor. Atas dasar usaha kerasnya, Andrea berhasil melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ekonomi, Universitas Indonesia. Merasakan bangku kuliah merupakan salah satu cita-citanya sejak ia berangkat dari belitong. Setelah memperoleh gelar sarjana, Andrea juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S2 Economic Theory di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, Inggris. Berkat otaknya yang cerdas, Andrea lulus dengan status cum laude dan mampu meraih gelar Master Uni Eropa. Dan setelah pendidikannya selesai, Andrea bekerja di PT Telkom dan Mulailah ia bekerja sebagai seorang karyawan Telkom. Andrea masih aktif sebagai seorang instruktur di perusahaan telekomunikasi. Selama bekerja, niatnya menjadi seorang penulis masih terpendam dalam hatinya. Niat untuk menulis semakin besar setelah ia menjadi seorang relawan di Aceh untuk para korban tsunami. Sekembalinya dari Aceh, Andrea pun memantapkan diri untuk menulis tentang pengalaman masa lalunya di SD Muhamadiya dan sosok Bu Muslimah. ia mengerjakannya hanya selama tiga minggu. Naskah setebal 700 halaman itu digandakan menjadi 11 buah. Satu kopi naskah dikirimkan kepada Bu Muslimah yang saat itu sedang sakit. Dan sisanya dikirimkan kepada sahabat-sahabatnya saat ia bersekolah di SD Muhamadiya. Saat itu teman Andrea membaca naskah yang berada dalam laptopnya dan kemudian mengirimkan ke penerbit. Penerbit pun tertarik untuk menerbitkan dan menjualnya ke pasar. Pada Desember 2005, buku Laskar Pelangi diluncurkan ke pasar secara resmi. Laskar Pelangi menjadi bahan pembicaraan para penggemar karya sastra khususnya novel. Dalam waktu seminggu, novel perdana Andrea tersebut mampu dicetak ulang. Bahkan dalam kurun waktu setahun setelah peluncuran, Laskar Pelangi mampu terjual sebanyak 200 ribu sehingga masuk dalam best seller.  Saatini, Laskar Pelangi mampu terjual lebih dari satu juta eksemplar. Penjualan Laskar Pelangi semakin merangkak naik setelah Andrea muncul dalam acara televisi. Bahkan penjualannya mencapai 20 ribu dalam sehari. Merupakan satu prestasi tersendiri bagi Andrea, lebih lagi ia masih tergolong baru sebagai seorang penulis novel. Padahal Andrea sendiri mengaku sangatlah jarang membaca novel sebelum menulis Laskar Pelangi. Sukses dengan Laskar Pelangi, Andrea kemudian kembali meluncurkan buku kedua, Sang Pemimpi yang terbit pada Juli 2006 dan dilanjutkan dengan buku ketiganya, Edensor pada Agustus 2007. Selain meraih kesuksesan dalam tingkat penjualan, Andrea juga meraih penghargaan sastra Khatulistiwa Literary Award (KLA) pada tahun 2007.
 Andrea merasakan perasaan bangga dan bahagia saat Laskar Pelangi diangkat menjadi film layar lebar oleh Mira Lesmana dan Riri Riza. film Laskar Pelangi juga sempat ditonton oleh orang nomor satu di negeri ini, Susilo Bambang Yudhoyono beberapa waktu lalu.Kini Laskar Pelangi memiliki artikulasi yang lebih luas dari pada sebuah buku. Nilai-nilai dalam Laskar Pelangi menjadi lebih luas.




Ilmu Komunikasi
Refany Rani Ratri 
14140110453/L1
Niknik M Kuntarto, S.Pd. M.Hum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar